Rabu, 10 Februari 2016

Sebelumnya aku pernah dikecewakan,
oleh sebuah impian yang sebatas harapan.
Harapan akan sebuah pertemanan.
Kemudian aku melihatmu datang,
datang membawa lentera kehidupan.
Aku mulai yakin bahwa aku tak salah telah percaya.
Namun sepenggal kejadian telah menciptakan tembok diantara kita.
Dan membuat kita, menjadi sebatas aku dan kau.
Aku meragukannya,
apakah seorang sahabat memang nyata?

Yang bisa ku pikirkan adalah,
mungkin Tuhan menahan jodohku karena Dia sayang padanya.
Tak masalah jika menganggap satu untuk bersama,
tapi setidaknya hargailah hak pribadi miliknya.

Senin, 08 Februari 2016

Kau bertanya, "Untuk apa temanmu yang banyak itu?",
"Untuk sekadar mengingat bahwa mereka menganggapku ada", jawabku.

Minggu, 11 Oktober 2015

Marah tak salah.
Benci juga tak ada larangan.
Namun jika hidup hanya untuk memelihara kemarahan yang mengandung kebencian,
Maka tak ada yang akan kau ciptakan
Kecuali hudup penuh kesengsaraan.

Selasa, 06 Oktober 2015

::Selingan::
Tanpa sadar ia memperlakukanmu layaknya teman selingan.
Tak berarti banyak kau baginya.
Dia memang pernah berkata bahwa sulit hidup tanpa seorang pria,
Tapi tak seharusnya juga ia tak menghiraukan keberadaanmu.
Dia membatasi hidupnya darimu.
Hanya berbicara yang perlu dikatakan.
Tanpa sadar bahwa kau tersakiti dengan sifatnya.
Kau diam tak bicara,
Karena merasa tak berhak atas semuanya.
Hanya sebatas selingan ia menganggapmu.
Hanya karena seorang pria ia menyakitimu.
Dan semua itu membuktikan bahwa dia tak mempercayaimu,
Layaknya seorang teman dekat yang hanya pura-pura dekat.
       To: Sukma

Jumat, 02 Oktober 2015

::Tulus::
Dia yang menjalani sebuah  hubungan dengan tulus,
Adalah dia yang tidak pernah menuntut apapun.
Selalu memberi tanpa berharap kembali.
Selalu ikhlas tanpa perhitungan.
Selalu memperhatikan tanpa  berharap di pandang.
Dan selalu ada tanpa berharap kebersamaan.